Yogyakarta, 13 Mei 2026 — PT. Syncore Indonesia berperan sebagai narasumber dalam kegiatan Pendampingan Badan Usaha Milik Kelurahan (BUMKal) Palbapang yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kelurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinas PMK Dukcapil DIY). Kegiatan tersebut digelar di Kelurahan Palbapang, Bantul, pada Rabu, 13 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pengelola BUMKal agar mampu mengembangkan potensi desa secara lebih profesional, terarah, dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, konsultan Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id untuk mendukung penguatan kapasitas BUMKal Palbapang. Kolaborasi ini menegaskan pentingnya pendampingan berbasis keahlian, jejaring, dan strategi pengembangan usaha desa. (Lurah Palbapang Sukirman, S.H. (tengah-kanan), Anggota DPRD Fraksi Golkar DIY Ami Tyas Palupi, S.T. (Tengah-kiri), Murti Maharini, S.E. M.Dev., Perwakilan Dinas PMK Dukcapil DIY (Pojok Kiri) dan Narasumber BUMDES.id by Meravi.id (Pojok Kanan), Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., dalam kegiatan Pembinaan (BUMKal) Palbapang Tahun 2026 di Balai Kelurahan Palbapang, Rabu (13/5/2026). Sumber: Dokumentasi Syncore Indonesia). Acara diawali dengan sambutan Lurah Palbapang, Sukirman, S.H. Ia menyampaikan bahwa desa memiliki potensi besar yang terus dikembangkan. Beliau juga mendorong kolaborasi dengan pengelola mandiri agar sistem berjalan lebih efektif. “Kami berharap pembekalan pelatihan BUMKal ini bermanfaat dan BUMKal dapat menjadi kekuatan ekonomi desa,” ujar Sukirman, S.H. Selain itu, ia menegaskan bahwa BUMKal Palbapang harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, potensi desa dapat dioptimalkan secara maksimal.Komitmen Pemerintah dalam Pembinaan BUMKal 2026Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari, perwakilan DPMK Dukcapil DIY, Ibu Murti Maharini, S.E. M.Dev,. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa Pembinaan BUMKal 2026 merupakan bentuk komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam mendukung reformasi kelurahan, khususnya penguatan ekonomi masyarakat. BUMKal dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi sekaligus pengelola potensi lokal, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Kelurahan Palbapang menjadi salah satu dari 14 lokasi pelaksanaan pembinaan BUMDes di DIY pada tahun 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengurus dalam tata kelola kelembagaan, manajemen usaha, dan pengelolaan keuangan. Selain menjadi sarana penyampaian materi, pembinaan ini juga menjadi ruang diskusi dan berbagi pengalaman untuk mendorong inovasi, penguatan kemitraan, serta pengembangan BUMKal agar semakin bermanfaat bagi masyarakat.Anggota DPRD Fraksi Golkar DIY Ami Tyas Palupi, S.T. (Tengah-kiri), saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pembinaan (BUMKal) Palbapang Tahun 2026 di Balai Kelurahan Palbapang, Rabu (13/5/2026). Sumber: Dokumentasi Syncore Indonesia) Anggota DPRD DIY, Anggota DPRD Komisi D Fraksi Golkar DIY Ami Tyas Palupi, S.T., menilai BUMKal Palbapang memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kebanggaan Bantul dan DIY. Menurutnya, perubahan dari BUMDes menjadi BUMKal bukan sekadar perubahan nama, tetapi harus diikuti dengan kemandirian agar kelurahan mampu menopang ekonominya secara berkelanjutan. “BUMKal harus menjadi mitra dan jembatan bagi warga, bukan malah menjadi pesaing” tegas Ibu Ami Palupi.”Ibu Ami Tyas Palupi juga mengingatkan agar pengurus BUMKal tidak hanya terpaku pada urusan administrasi, tetapi berani berinovasi, berpromosi, dan mengambil peluang dari potensi lokal. Beliau turut mendorong penguatan regulasi, akses permodalan, serta jejaring dengan pihak swasta, akademisi, dan dinas terkait untuk mendukung pendampingan BUMKal secara berkelanjutan.Narasumber Bumdes.id by Meravi.id (Berdiri Kanan), Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., saat memberikan materi pendampingan dalam kegiatan Pembinaan (BUMKal) Palbapang Tahun 2026 di Balai Kelurahan Palbapang, Rabu (13/5/2026). Sumber: Dokumentasi Syncore Indonesia). Dalam sesi materi, narasumber dari Syncore Indonesia, Widodo Prasetyo Utomo, S.AK. menekankan bahwa BUMKal harus dibangun berbasis kebutuhan desa. Ia menyebut pendirian BUMKal tidak boleh hanya karena regulasi atau tren. Menurutnya, BUMKal harus hadir sebagai solusi atas masalah desa. Fokus utamanya adalah mengatasi pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi. “BUMKal harus mampu mengoptimalkan potensi desa dan menjadi solusi nyata bagi masyarakat” jelas Widodo. Ia juga menegaskan bahwa pembinaan BUMKal 2026 menekankan pendekatan sistematis. Pengembangan usaha harus melalui tahapan yang jelas dan berkelanjutan.Dalam pemaparan materinya, Widodo Prasetyo Utomo juga menjelaskan pentingnya pemetaan potensi desa. Pemetaan ini dilakukan untuk memahami sumber daya dan peluang usaha yang tersedia. Tahapan ini mencakup observasi lapangan, penyusunan ide bisnis, hingga analisis kelayakan usaha. Dengan pendekatan ini, BUMKal dapat menentukan model bisnis yang tepat. Selain itu, analisis rantai nilai membantu menentukan posisi strategis BUMKal. Dengan strategi ini, BUMKal Palbapang dapat menciptakan nilai tambah bagi produk lokal. Widodo menegaskan bahwa keberhasilan BUMKal tidak hanya bergantung pada sistem. Faktor kepemimpinan dan kewirausahaan juga sangat menentukan. Pengurus BUMKal harus memiliki kemampuan adaptif dan inovatif. Mereka juga harus berani mengambil peluang yang ada. Dengan pendekatan ini, Pembinaan BUMKal 2026 diharapkan mampu mendorong ekonomi desa secara berkelanjutan.Konsultan Syncore Perkuat Komitmen dalam Pengembangan (BUMKal)(Lurah Palbapang Sukirman, S.H. (tengah-kiri), Perwakilan Dinas PMK Dukcapil DIY (Pojok Kanan) dan Narasumber Bumdes.id by Meravi.id (Pojok Kiri), Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak. dan para peserta dalam foto bersama di kegiatan Pembinaan (BUMKal) Palbapang Tahun 2026 di Balai Kelurahan Palbapang, Rabu (13/5/2026). Sumber: Dokumentasi Syncore Indonesia). Kegiatan pendampingan ini menegaskan peran Syncore Indonesia sebagai konsultan yang aktif mendukung penguatan kapasitas BUMKal melalui pendekatan strategis dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, Syncore Indonesia berkolaborasi dengan BUMDes.id by Meravi.id untuk membantu BUMKal Palbapang memahami strategi pengembangan usaha, tata kelola kelembagaan, dan pentingnya jejaring usaha. Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen Syncore Indonesia dalam menghadirkan pendampingan berbasis keahlian untuk mendorong ekonomi kelurahan yang lebih mandiri.Melalui pendampingan tersebut, Syncore Indonesia mendorong BUMKal Palbapang agar mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi kelurahan yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap peluang lokal. Penguatan kapasitas yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengelolaan unit usaha, tetapi juga pada pembangunan model bisnis yang terarah dan berkelanjutan. Dengan dukungan Syncore Indonesia, BUMKal diharapkan dapat menjadi penggerak kemandirian ekonomi lokal sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id dalam kegiatan pembinaan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tuwuh Temuwuh. Kegiatan tersebut digelar oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY (DPMKKPS DIY) di Taman Budaya Temuwuh, salah satu unit usaha milik BUM Desa Tuwuh Temuwuh pada Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan Maulana Rizka Mahendra selaku Tenaga Ahli Syncore Indonesia untuk memaparkan strategi jejaring usaha dalam penguatan kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh.Kegiatan ini diikuti sebanyak 15 peserta dari berbagai unsur kalurahan. Peserta terdiri dari Pengurus dan Pengawas BUMKal, Lurah, Pamong Kalurahan, Bamuskal, serta Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan. Pembinaan ini bertujuan memperkuat kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh dalam mengembangkan usaha berbasis potensi kalurahan. Melalui kegiatan ini, BUMKal Tuwuh Temuwuh diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi lokal.Dalam pemaparannya, Maulana menegaskan bahwa BUMKal perlu kembali pada tujuan dasarnya: hadir untuk menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Ia menekankan bahwa usaha yang berkelanjutan harus dimulai dari pemahaman mendalam tentang potensi dan permasalahan nyata di kalurahan. Tanpa pijakan itu, usaha yang dibangun rentan gagal meski niatnya baik.Maulana menjelaskan pentingnya melakukan Pemetaan Bentang sebelum menentukan unit usaha yang akan dijalankan. Metode ini menganalisis potensi dan permasalahan kalurahan dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari hasil pemetaan inilah ide bisnis yang relevan dapat dirumuskan, dikembangkan menjadi Business Model Canvas (BMC), lalu diuji kelayakannya sebelum dieksekusi.Maulana juga memaparkan konsep jejaring usaha sebagai kerja sama terstruktur antar pihak yang saling mendukung. Jejaring ini mencakup pihak internal desa, antar desa, hingga pihak eksternal seperti pemerintah, perbankan, dan sektor swasta. "Jejaring usaha harus dibangun dengan prinsip saling menguntungkan, berbasis kebutuhan, dan berkelanjutan," ujarnya.Lebih lanjut, Maulana menyoroti pentingnya value chain analysis atau analisis rantai nilai untuk menemukan titik nilai tambah produk BUMKal. Ia juga menekankan bahwa pemilihan ide usaha harus mempertimbangkan kesiapan SDM, sarana prasarana, serta kejelasan pasar. Dengan pendekatan ini, BUMKal Tuwuh Temuwuh diharapkan tidak lagi sekadar mencoba-coba, tetapi melangkah dengan strategi yang terukur.Melalui kegiatan pembinaan ini, kolaborasi antara DPMKKPS DIY dengan Bumdes.id by Meravi.id yang berkolaborasi dengan Syncore Indonesia diharapkan mampu mendukung peningkatan kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh secara berkelanjutan. Pendekatan yang diberikan menjadi upaya nyata untuk mendorong BUMKal agar lebih profesional dan mandiri. Dengan pengelolaan yang tepat, BUMKal Tuwuh Temuwuh berpotensi memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kalurahan Temuwuh.
Syncore Indonesia bekerja sama dengan Bumdes.id by Meravi hadir sebagai narasumber dalam program pendampingan BUMKal Makmur Jaya yang digelar di Balai Kalurahan Salam, Patuk, Gunung Kidul. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta (DPMKKPS DIY) pada Rabu, 17 Juni 2026. Sebanyak 19 peserta mengikuti pelatihan tersebut guna meningkatkan kapasitas pengelola badan usaha milik kalurahan.Pendampingan ini menghadirkan tiga narasumber dengan peran berbeda. Bapak Arif Setiadi, S.IP., anggota DPRD DIY dari Fraksi PAN, memberikan arahan kebijakan bagi pengembangan BUMKal, Bapak Slamet, S.Pd., dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) DIY, memberikan arahan terkait tata kelola & akuntabilitas keuangan BUMKal, dan Maulana Rizka Mahendra, S.E., sebagai Tenaga Ahli Syncore Indonesia membahas terkait strategi pengembangan jejaring usaha berbasis potensi kalurahan.Sebelum sesi paparan dari Narasumber, Direktur BUMKal Makmur Jaya, Aning, terlebih dahulu memaparkan profil dan capaian unit usaha. Berdiri sejak akhir tahun 2016, BUMKal Makmur Jaya kini telah berhasil mengelola beragam unit bisnis. Unit usaha mereka meliputi unit simpan pinjam, Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes), agen laku pandai, internet murah, perawatan lapangan voli, peternakan ayam petelur untuk ketahanan pangan, hingga Warung Lanjut Usaha Yogyakarta (Waluyo). Strategi Pemetaan Jejaring Usaha untuk Pengembangan Bisnis DesaMaulana, dalam paparannya menjelaskan esensi utama dari pendirian BUMKal, yaitu untuk menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat serta memenuhi kebutuhan yang belum tercapai. Menurutnya, pembangunan desa yang sesungguhnya harus dimulai dari membangun kesadaran warga untuk mengubah nasibnya sendiri. BUM Desa harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan umum dalam rangka menekan angka pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan di desa.Maulana menyampaikan bahwa BUMKal Makmur Jaya sudah berhasil mengimplementasikan tujuan tersebut. Hal ini ditunjukkan melalui kehadiran salah satu unit usaha, yakni simpan pinjam sebagai jawaban konkrit untuk membantu masyarakat desa yang kesulitan mengakses pinjaman modal dari bank. Lewat unit usaha ini, warga Kalurahan Salam dapat dengan mudah mengakses modal usaha mulai dari Rp500 ribu dengan bunga ringan.Lebih lanjut, Maulana memaparkan konsep dasar Jejaring Usaha, yaitu hubungan kerja sama terstruktur dan saling menguntungkan antara BUMKal dengan berbagai mitra strategis. Strategi ini dirancang untuk memperluas akses pasar, modal, teknologi, hingga efisiensi distribusi bisnis desa. Jejaring usaha ini dipetakan ke dalam beberapa klaster utama, yaitu sisi hulu bersama petani atau pengrajin lokal, sisi hilir melalui retail dan distributor, serta sisi pendukung seperti lembaga keuangan dan pemerintah.Proses perancangan jejaring usaha ini didasarkan pada 6 Tahapan Strategi Pengembangan Jejaring, yaitu:Pemetaan Potensi: Mengidentifikasi aset dan keunggulan prioritas kalurahan.Analisis Rantai Nilai: Menemukan titik nilai tambah, memetakan alur produksi, serta mengidentifikasi bottleneck usaha.Identifikasi Aktor Jejaring: Melakukan stakeholder mapping untuk menentukan mitra strategis, baik internal desa, antar-desa, maupun pihak eksternal.Penentuan Model Jejaring: Memilih bentuk kolaborasi yang tepat (seperti kemitraan produksi, kemitraan distribusi, klaster usaha, atau holding BUMKal).Desain Skema Kerja Sama: Menyusun sistem kolaborasi formal, pembagian peran, skema bagi hasil, hingga penyusunan MoU/PKS.Implementasi & Penguatan: Melakukan uji coba (pilot project), monitoring, serta evaluasi berkala untuk ekspansi usaha.Langkah awal dari seluruh tahapan ini dimulai dengan membentuk Tim Pemetaan Potensi Desa untuk pengisian kertas kerja "Pemetaan Bentang Alam, Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Teknologi". Hasil observasi lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh masyarakat kemudian dituangkan menjadi ide-ide bisnis. Pemilihan usaha akhir disaring berdasarkan aspek legalitas, kapabilitas, pasar, dan permodalan, sebelum akhirnya dianalisis menggunakan Business Model Canvas (BMC). Syncore Indonesia yang bekerja sama dengan Bumdes.id by Meravi terus berkomitmen penuh dalam mengawal pertumbuhan, penguatan, dan pengembangan BUM Desa di seluruh Indonesia. Komitmen ini dihadirkan demi mewujudkan tata kelola BUMKal yang tangguh dan akuntabel, guna mendorong esensi sejati dari Kebangkitan Ekonomi Indonesia dari Desa.
Kaji Banding Pasar Among Tani untuk Persiapan BLUD berlangsung di Pasar Beringharjo Yogyakarta. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi UPT Pasar Among Tani Kota Batu. Hasil diskusi juga menjadi bahan penting dalam penyusunan Kajian Kelayakan BLUD. Rombongan Kota Batu hadir untuk menggali praktik pengelolaan pasar secara langsung. Diskusi berlangsung bersama jajaran Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta dan UPT Pusat Bisnis. Selain itu, kegiatan ini menjadi forum berbagi pengalaman tentang tantangan pengelolaan pasar rakyat. Dalam forum tersebut, peserta menyampaikan bahwa Pasar Among Tani sedang berada dalam proses pembenahan. Beberapa isu utama mencakup regulasi, tata kelola gedung, SOP, SDM, dan pendapatan layanan. Oleh karena itu, pembelajaran dari Pasar Beringharjo dinilai relevan untuk memperkuat arah pengelolaan.Regulasi dan Tata Kelola Menjadi Fokus Diskusi Diskusi menempatkan regulasi sebagai dasar penting dalam pengelolaan pasar. Pengelola Pasar Beringharjo menekankan bahwa regulasi menjadi patokan dalam menjalankan kewenangan. Dengan dasar yang jelas, pengelola memiliki perlindungan saat mengambil keputusan layanan. Pembahasan tata kelola pasar juga mencakup manajemen fisik, operasional, SDM, ekonomi, dan sosial. Pengelola pasar perlu membaca dinamika pedagang dan masyarakat sekitar. Karena itu, komunikasi dengan paguyuban menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan di lapangan. Selain regulasi, SOP menjadi perhatian penting dalam forum. Rombongan Kota Batu menilai SOP perlu disiapkan untuk memperjelas alur kerja. Dalam praktiknya, SOP membantu petugas bekerja lebih tertib, terarah, dan mudah dievaluasi.Fleksibilitas BLUD untuk Penguatan Layanan Kaji Banding Pasar ini juga membahas fleksibilitas BLUD dalam pengelolaan keuangan. UPT Pusat Bisnis menjelaskan bahwa BLUD memberi ruang penggunaan pendapatan secara lebih fleksibel. Namun, fleksibilitas tersebut tetap harus dijalankan dengan prinsip tata kelola yang sehat. Pembahasan BLUD Pasar menekankan bahwa tujuan utama bukan mencari keuntungan. Fokus utamanya adalah meningkatkan layanan kepada masyarakat. Karena itu, pendapatan layanan perlu dikelola untuk mendukung operasional dan kualitas pelayanan. Peserta juga mendiskusikan tarif, unit cost, kerja sama, dan belanja layanan. Pengelola UPT Pusat Bisnis menekankan pentingnya menghitung kebutuhan layanan secara realistis. Sementara itu, penyesuaian tarif perlu diikuti peningkatan layanan yang dapat dirasakan pedagang.Praktik Baik Pengembangan Usaha Pasar Pasar Beringharjo memberikan banyak pembelajaran tentang pengembangan usaha pasar. Pengelola mendorong pemanfaatan ruang pasar untuk kegiatan ekonomi, promosi, dan kerja sama. Beberapa ruang dapat dikembangkan melalui event, iklan, sewa tempat, dan aktivitas komunitas. Kerja sama dengan perbankan, korporasi, kampus, dan pelaku ekonomi kreatif turut menjadi praktik baik. Dukungan mitra dapat membantu pengadaan fasilitas dan pengembangan kegiatan pasar. Namun, kerja sama tetap membutuhkan regulasi dan administrasi yang jelas. Pengelola juga menekankan pentingnya membangun pasar sebagai ruang edukasi dan budaya. Pasar tidak hanya menjadi tempat jual beli bahan pokok. Pasar juga dapat menjadi ruang kreatif, tujuan wisata, dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.Pelayanan, Digitalisasi, dan Pengaduan Masyarakat Kaji Banding Pasar turut membahas pelayanan pelanggan dan publikasi informasi. Pasar Beringharjo memanfaatkan media sosial, informasi harga, dan kanal layanan untuk menjangkau masyarakat. Selain itu, radio pasar juga digunakan sebagai media komunikasi dan promosi. Pengelola pasar menilai pelayanan prima harus didukung SDM yang siap merespons kebutuhan lapangan. Petugas keamanan, kebersihan, teknisi, dan pengelola perlu memahami perannya masing-masing. Dengan demikian, pelatihan dan pembinaan SDM menjadi bagian dari penguatan tata kelola pasar. Survei kepuasan masyarakat juga menjadi perhatian dalam pengelolaan layanan. UPT Pusat Bisnis menyampaikan bahwa survei dapat disusun sesuai karakter layanan. Hasil survei dapat menjadi dasar evaluasi internal dan peningkatan pelayanan.Syncore Indonesia Dampingi Kaji Banding dan Penyusunan Kajian BLUD Kegiatan kaji banding ini menjadi bagian dari proses pengumpulan data untuk penyusunan kajian kelayakan BLUD UPT Pasar Among Tani. Informasi yang diperoleh dari diskusi digunakan untuk melihat kebutuhan, tantangan, dan peluang penguatan pengelolaan pasar. Dengan cara ini, kajian yang disusun dapat lebih dekat dengan kondisi nyata layanan. Dalam proses tersebut, Syncore Indonesia turut mendampingi kegiatan kaji banding dan penyusunan kajian kelayakan BLUD UPT Pasar Among Tani. Pendampingan dilakukan melalui fasilitasi pembelajaran, penggalian data, dan pengolahan hasil diskusi. Hasil kaji banding kemudian menjadi bahan analisis untuk membaca kesiapan regulasi, kelembagaan, SDM, pendapatan, dan layanan. Pendekatan berbasis data lapangan penting agar rencana pengembangan BLUD Pasar disusun secara realistis. Setiap rekomendasi perlu mempertimbangkan kapasitas unit layanan, kebutuhan pedagang, dan arah penguatan tata kelola pasar. Dengan demikian, proses persiapan BLUD dapat berjalan bertahap dan sesuai kebutuhan daerah.Langkah Lanjutan Penguatan Pasar Among Tani Kaji Banding Pasar Among Tani ke Pasar Beringharjo memberikan pembelajaran penting bagi penguatan tata kelola pasar rakyat. Diskusi yang berlangsung menunjukkan bahwa persiapan BLUD perlu didukung regulasi yang kuat, SOP yang jelas, SDM yang siap, serta pengelolaan pendapatan yang realistis. Selain itu, praktik baik dari Pasar Beringharjo memberi gambaran bahwa pasar dapat berkembang sebagai ruang ekonomi, pelayanan, edukasi, dan aktivitas masyarakat. Kegiatan ini juga memperkuat pentingnya penyusunan Kajian Kelayakan BLUD berbasis data lapangan. Melalui pendampingan Syncore Indonesia, hasil kaji banding dapat diolah menjadi bahan analisis untuk membaca kesiapan UPT Pasar Among Tani secara lebih terarah. Pendekatan ini menjadi bagian dari upaya Syncore Indonesia dalam mendukung pemerintah daerah menyiapkan kajian BLUD yang realistis, aplikatif, dan sesuai kebutuhan layanan. Dengan demikian, proses persiapan BLUD diharapkan dapat berjalan bertahap dan sesuai kondisi daerah. Penguatan regulasi, tata kelola, pendapatan, dan pelayanan menjadi pijakan penting bagi UPT Pasar Among Tani ke depan. Melalui proses pendampingan yang tepat, pasar rakyat dapat terus diperkuat agar mampu memberikan layanan yang lebih baik bagi pedagang maupun masyarakat.
Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (DPMKKPS) Daerah Istimewa Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Oerip Soemohardjo di Kalurahan Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Senin (25/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, Bumdes.id by Meravi.id berkolaborasi dengan Syncore Indonesia hadir sebagai mitra narasumber untuk memberikan penguatan strategi pengembangan usaha BUMKal.Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kapasitas kelembagaan dan pengembangan usaha BUMKal berbasis potensi lokal. Melalui penguatan kompetensi pengelola dan penyusunan strategi usaha yang berkelanjutan, BUMKal diharapkan mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat kalurahan.Kegiatan tersebut dihadiri oleh Bapak Basit Sugiyanto dari DPRD DIY, Bapak Setyo dari DPMKKPS DIY, dan Bapak Agung selaku Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) Kabupaten Sleman. Adapun peserta yang mengikuti kegiatan terdiri atas unsur Pemerintah Kalurahan Sardonoharjo, pengurus BUMKal Oerip Soemohardjo, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal) Sardonoharjo, serta Pendamping Desa.Sebagai narasumber dari Syncore Indonesia, Bapak Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., menyampaikan materi mengenai strategi pengembangan usaha BUMKal yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat dan pemanfaatan potensi lokal. Menurutnya, BUMKal tidak hanya berfungsi sebagai entitas bisnis, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendorong kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan usaha yang profesional dan berkelanjutan.Dalam pemaparannya, Bapak Pras menjelaskan bahwa pengembangan BUMKal perlu dilakukan secara terencana dengan memperhatikan potensi wilayah, kebutuhan masyarakat, dan peluang pasar yang tersedia. Oleh karena itu, setiap unit usaha yang dikembangkan harus memiliki arah yang jelas serta mampu memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat kalurahan.Selain itu, Bapak Pras juga menekankan pentingnya penguatan sumber daya manusia dalam pengelolaan BUMKal. Menurutnya, kualitas pengurus akan sangat menentukan keberhasilan usaha yang dijalankan. Kemampuan manajerial, inovasi, dan kolaborasi menjadi faktor penting yang perlu terus ditingkatkan agar BUMKal mampu menghadapi berbagai tantangan usaha di tingkat lokal.Pada sesi pemaparan, peserta juga memperoleh materi mengenai pemetaan potensi kalurahan, pengembangan jejaring usaha, serta penyusunan ide bisnis yang berkelanjutan. Bapak Pras menjelaskan bahwa jejaring usaha dapat membantu BUMKal memperluas akses pasar, meningkatkan peluang kerja sama, serta memperkuat posisi usaha di tengah persaingan yang semakin dinamis.“Kerja sama yang baik akan membuka peluang pengembangan usaha yang lebih luas dan memberikan nilai tambah bagi BUMKal maupun masyarakat,” ujarnya.Peserta juga mempelajari tahapan penyusunan ide bisnis yang dimulai dari identifikasi potensi wilayah, analisis kebutuhan masyarakat, hingga penentuan model usaha yang sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi setempat. Menurut Bapak Pras, pemilihan unit usaha yang tepat menjadi salah satu kunci keberhasilan BUMKal dalam menjalankan fungsi ekonomi dan sosialnya.Selain membahas strategi bisnis, kegiatan ini juga menyoroti pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak, baik pemerintah, sektor swasta, lembaga keuangan, maupun komunitas masyarakat serta media. Kolaborasi yang kuat dinilai mampu memperluas peluang usaha, meningkatkan akses permodalan, serta memperkuat daya saing BUMKal dalam jangka panjang.Melalui kegiatan ini, DPMKKPS DIY berharap BUMKal Oerip Soemohardjo dapat berkembang menjadi lembaga usaha yang profesional, mandiri, dan berkelanjutan. Sementara itu, Syncore Indonesia berkomitmen untuk terus mendukung penguatan kapasitas pengelola BUMKal melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan. Dengan pengelolaan yang semakin baik, BUMKal diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi kalurahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id kembali hadir dalam penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di wilayah DIY. Pada Rabu, 20 Mei 2026, Syncore Indonesia hadir sebagai narasumber dalam mendampingi pelaksanaan Reformasi Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan yang diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta di Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi ruang bagi Syncore Indonesia untuk membagikan strategi pengembangan jejaring usaha berbasis pada potensi lokal kepada para pengurus BUMKal Tamanmartani.BUMKal Tamanmartani mencatatkan perkembangan yang patut diapresiasi. Dalam kurun waktu tiga tahun, BUMKal ini berhasil naik dari status pemula menjadi status maju. Sebuah kenaikan pemeringkatan yang terbilang cepat dan menunjukkan bahwa pengelolaan di tingkat kalurahan ini memang serius. Saat ini, BUMKal Tamanmartani memiliki beberapa unit usaha, seperti penyediaan internet desa, pengelolaan sampah, air mineral dalam kemasan (AMDK), dan wisata bumi perkemahan.Unit usaha ini menariknya tidak dirancang sekadar di atas kertas, melainkan berangkat dari masalah nyata di masyarakat. Layanan internet desa hadir sebagai respons atas keresahan warga saat pandemi COVID-19, yaitu ketika kebutuhan pembelajaran daring melonjak sementara harga internet dinilai terlalu mahal. Unit pengelolaan sampah pun demikian, bermula dari persoalan overload sampah di lahan pertanian. Pendekatan inilah yang dalam konsep di Syncore Indonesia disebut sebagai strategi berbasis masalah, yaitu mengubah persoalan warga menjadi sebuah peluang usaha.Dalam sesi pemaparan, narasumber dari Syncore Indonesia, Havri Ahsanul Fuad, S.Ak., M.Ak., menyampaikan strategi pengembangan jejaring usaha BUMKal berbasis potensi kalurahan. Havri menegaskan bahwa BUMKal sejatinya harus kembali pada cita-cita kemerdekaan Indonesia yaitu hadir untuk memajukan kesejahteraan umum melalui pengurangan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Karena itu, BUMKal tidak boleh berdiri sekadar memenuhi regulasi atau ikut-ikutan, melainkan harus lahir dari kebutuhan dan potensi nyata yang ada di desa.Havri menjelaskan bahwa langkah awal yang krusial adalah melakukan Pemetaan Bentang, sebuah metode pemetaan menyeluruh yang menganalisis potensi dan permasalahan desa dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari sinilah ide bisnis dirumuskan dan dikembangkan menjadi Business Model Canvas (BMC), lalu diuji kelayakannya sebelum dijalankan.Lebih jauh, Havri menekankan pentingnya membangun jejaring usaha yang terstruktur. Jejaring ini tidak hanya mencakup pihak internal desa seperti kelompok tani, UMKM, dan karang taruna, tetapi juga meluas ke antar desa hingga pihak eksternal seperti perusahaan, perbankan, pemerintah daerah, dan marketplace. Kunci membangunnya, kata Havri, adalah mulai dari kebutuhan usaha yang nyata, bangun kepercayaan, tawarkan nilai yang jelas, lalu formalisasi melalui Memorandum of Understanding (MoU) atau perjanjian kerja sama.Havri juga memberikan dua saran bagi BUMKal Tamanmartani. Pertama, membuat paket kunjungan wisata BUMKal sebagai cara memperkenalkan unit-unit usaha yang telah berjalan kepada publik yang lebih luas. Kedua, aktif mengikuti kompetisi-kompetisi BUMDes. Menurutnya, BUMKal Tamanmartani memiliki potensi yang layak untuk bersaing, karena apabila BUMKal semakin dikenal maka semakin mudah pula BUMKal menarik jejaring usaha dari luar, baik berupa mitra bisnis, investor, maupun peluang kolaborasi lainnya.Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia mengingatkan bahwa penguatan ekonomi desa yang berkelanjutan dimulai dari bagaimana melihat masalah sebagai peluang dan membangun jejaring usaha yang terstruktur. Bersama BUMKal Tamanmartani, Syncore Indonesia dan Meravi.id terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.
Syncore Indonesia kembali hadir dalam penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di wilayah DIY. Pada Jumat, 8 Mei 2026, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY menggelar kegiatan Pembinaan BUMKal di Kantor Kalurahan Girikerto sebagai bagian dari strategi Reformasi Ekonomi Kalurahan. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran BUMKal sebagai penggerak utama ekonomi desa/kalurahan, sekaligus menjadi ruang bagi Syncore Indonesia untuk berbagi strategi pengembangan jejaring usaha berbasis potensi kalurahan. Agenda pembinaan ini dihadiri peserta yang terdiri dari unsur Pengurus BUMKal, Pengawas BUMKal, Lurah, Pamong Kalurahan, Bamuskal, Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, serta Tenaga Pendamping Profesional. BUMKal Girikerto yang bernama BUMKal Gerbang Merapi tercatat telah berbadan hukum dan berstatus maju berdasarkan data dari Kementerian Desa. Capaian ini didukung oleh diversifikasi sembilan unit usaha, meliputi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Girikerto, Stasiun Pengisian Tangki Air (SPTA), Peternakan Unggas, Wisata Petik Salak Kusuma Mulya, Pengolahan Susu, Bumi Perkemahan Lembah Merapi, Catering Srikandi Sembodo, serta Desa Wisata dan Edukasi.Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas pemangku kepentingan: Bapak Inoki Azmi Purnomo, S.Ag. dari Komisi A DPRD DIY Fraksi PAN, Maulana Rizka Mahendra, S.E. sebagai Tenaga Ahli Bumdes.id - Syncore Indonesia, serta Malik Khidir dari PT Stechoq. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan keseriusan berbagai pihak dalam mendorong penguatan kelembagaan BUMKal di wilayah DIY.Maulana, narasumber Bumdes.id - Syncore Indonesia, memaparkan strategi pengembangan jejaring usaha BUMKal berbasis potensi kalurahan. Ia menegaskan bahwa BUMKal harus mampu mengubah masalah menjadi peluang, dan peluang menjadi bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar bertahan dengan pendekatan konvensional yang minim inovasi.Inti dari strategi yang dipaparkan adalah pendekatan Pemetaan Bentang, sebuah metode yang mengukur dan menganalisis potensi serta permasalahan desa dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari hasil pemetaan ini, BUMKal dapat merumuskan ide bisnis yang relevan, menyusun Business Model Canvas (BMC) yang terukur, hingga melakukan analisis kelayakan usaha secara finansial maupun non-finansial. Pendekatan sistematis inilah yang selama ini menjadi fondasi pendampingan Syncore Indonesia dalam mengembangkan BUMKal di berbagai daerah.Maulana juga menekankan pentingnya jejaring usaha yang terstruktur. BUMKal perlu memetakan mitra dari berbagai pihak, mulai dari akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, lembaga keuangan, hingga media. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat membangun kerja sama dari kebutuhan usaha nyata dengan dilandasi kepercayaan, serta dapat diformalkan melalui MoU atau Perjanjian Kerja Sama. Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia membuktikan bahwa penguatan ekonomi desa membutuhkan pendampingan yang metodologis dan menyeluruh mulai dari pemetaan potensi, pengembangan model bisnis, hingga pembangunan jejaring usaha yang berkelanjutan. Bersama BUMKal Gerbang Merapi dan seluruh BUMKal di DIY, Syncore terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.
Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan ekonomi desa. Pada Kamis, 30 April 2026, Syncore Indonesia hadir sebagai narasumber dalam Kegiatan Pembinaan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tahun 2026 di Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi bagian strategis dalam memperkuat tata kelola ekonomi desa yang mandiri dan berdampak luas, khususnya melalui jejaring usaha yang tepat sasaran.Kalurahan Sinduadi sendiri memiliki sejumlah potensi yang tengah berkembang. Lurah Sinduadi memaparkan berbagai capaian pengelolaan potensi kalurahan, di antaranya inisiatif pertanian modern berupa fasilitas green house di Balai RT 09 Kragilan yang dikelola BUMKal Sindu Mandiri. Fasilitas ini berfokus pada budidaya melon premium jenis Kaori dan telah sukses menggelar panen raya pada Maret 2026. Selain itu, kalurahan turut memfasilitasi pelaku UMKM kuliner melalui skema food court. Merespon besarnya potensi tersebut, strategi jejaring usaha menjadi bekal krusial bagi BUMKal Sindu Mandiri untuk melangkah lebih jauh dalam menghubungkan produk lokal dengan ekosistem pasar yang lebih luas.Langkah BUMKal ini juga mendapat dukungan penuh dari sisi kebijakan. Anggota DPRD DIY, Sri Muslimatun, menegaskan bahwa BUMKal harus menjadi jembatan kemajuan ekonomi masyarakat, bukan kompetitor yang mematikan usaha warga. Sebagai bentuk dukungannya pihak legislatif telah menyiapkan anggaran khusus untuk penguatan kapasitas digital para pengurus BUMKal, mulai dari pengelolaan situs web hingga strategi promosi. Komitmen kebijakan ini menjadi angin segar bagi pengurus BUMKal, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah merupakan bagian penting dari jejaring yang perlu dibangun desa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kalurahan. Dalam sesi pemaparan, narasumber dari Syncore Indonesia, Havri Ahsanul Fuad, S.Ak., M.Ak., menyampaikan strategi pengembangan jejaring usaha kalurahan secara komprehensif. Havri menegaskan bahwa BUMKal harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengurangan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Ia menjelaskan bahwa bentuk nyata dari pembangunan jejaring usaha tersebut adalah dengan menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan antara BUMKal dan warga. Oleh karena itu, Havri menjelaskan bahwa kunci keberhasilan BUMKal terletak pada kemampuannya menjadi penyerap produk (offtaker) sekaligus menemukan titik nilai tambah melalui Value Chain Analysis. Ia mencontohkan BUMDes Kemudo Makmur yang melalui pendampingan tata kelola Syncore berhasil membangun jejaring dan kepercayaan masyarakat, dimana BUMDes Kemudo Makmur berhasil mengembangkan toko desa Kamajaya Mart sebagai offtaker produk UMKM lokal hingga mencatatkan omzet sebesar Rp6 miliar. Havri menyampaikan bahwa model ini relevan untuk dapat diterapkan di Sinduadi, dimana melon Kaori dapat menjadi produk unggulan yang siap diserap dan dikembangkan nilai tambahnya. Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia membuktikan bahwa penguatan ekonomi desa membutuhkan pendampingan yang terstruktur, mulai dari strategi bisnis, tata kelola keuangan, hingga digitalisasi. Bersama BUMKal Sindu Mandiri, Syncore terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.
Syncore Indonesia berperan sebagai narasumber dalam kegiatan Pendampingan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinas PMK Dukcapil DIY). Kegiatan tersebut digelar di Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, pada Kamis, 30 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pengelola BUMKal agar mampu mengembangkan potensi desa secara lebih profesional, terarah, dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, konsultan Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id untuk mendukung penguatan kapasitas BUMKal Sendangtirto. Kolaborasi ini menegaskan pentingnya pendampingan berbasis keahlian, jejaring, dan strategi pengembangan usaha desa. Pembukaan dan Potensi BUMKal Sendangtirto Acara diawali dengan sambutan Lurah Sendangtirto, Amir Junawan. Ia menyampaikan bahwa desa memiliki potensi besar yang terus dikembangkan. Salah satu fokus utama adalah pengelolaan sampah berbasis TPS 3R. Menurutnya, produksi sampah di wilayah tersebut cukup tinggi dan membutuhkan pengelolaan yang terstruktur. Ia juga mendorong kolaborasi dengan pengelola mandiri agar sistem berjalan lebih efektif. “Kami berharap potensi seperti pengelolaan sampah dan wisata bisa menjadi kekuatan ekonomi desa,” ujar Amir Junawan. Selain itu, ia menegaskan bahwa BUMKal Sendangtirto harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, potensi desa dapat dioptimalkan secara maksimal.Komitmen Pemerintah dalam Pembinaan BUMKal 2026 Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Setyo Warjiyana, S.I.P., M.P.A., perwakilan DPMK Dukcapil DIY. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa Pembinaan BUMKal 2026 merupakan bentuk komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam mendukung reformasi kalurahan, khususnya penguatan ekonomi masyarakat. BUMKal dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi sekaligus pengelola potensi lokal, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel. Kalurahan Sendangtirto menjadi salah satu dari 14 lokasi pelaksanaan pembinaan BUMDes di DIY pada tahun 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengurus dalam tata kelola kelembagaan, manajemen usaha, dan pengelolaan keuangan. Selain menjadi sarana penyampaian materi, pembinaan ini juga menjadi ruang diskusi dan berbagi pengalaman untuk mendorong inovasi, penguatan kemitraan, serta pengembangan BUMKal agar semakin bermanfaat bagi masyarakat.Arahan DPRD: BUMKal Harus Jadi Mitra Masyarakat Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, S.H., M.H., menilai BUMKal Sendangtirto memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kebanggaan Sleman dan DIY. Menurutnya, perubahan dari BUMDes menjadi BUMKal bukan sekadar perubahan nama, tetapi harus diikuti dengan kemandirian agar kalurahan mampu menopang ekonominya secara berkelanjutan. “BUMKal harus menjadi mitra dan jembatan bagi warga, bukan malah menjadi pesaing” tegas Rahayu. Rahayu juga mengingatkan agar pengurus BUMKal tidak hanya terpaku pada urusan administrasi, tetapi berani berinovasi, berpromosi, dan mengambil peluang dari potensi lokal. Beberapa potensi yang disoroti antara lain embung, tubing, wisata, hingga pengelolaan sampah mandiri. Ia turut mendorong penguatan regulasi, akses permodalan, serta jejaring dengan pihak swasta, akademisi, dan dinas terkait untuk mendukung pendampingan BUMKal secara berkelanjutan..Jejaring Usaha sebagai Kunci Pengembangan BUMKal Dalam sesi materi, narasumber dari Syncore Indonesia, Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., menekankan bahwa BUMKal harus dibangun berbasis kebutuhan desa. Ia menyebut pendirian BUMKal tidak boleh hanya karena regulasi atau tren. Menurutnya, BUMKal harus hadir sebagai solusi atas masalah desa. Fokus utamanya adalah mengatasi pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi. “BUMKal harus mampu mengoptimalkan potensi desa dan menjadi solusi nyata bagi masyarakat” jelas Widodo. Ia juga menegaskan bahwa pembinaan BUMKal 2026 menekankan pendekatan sistematis. Pengembangan usaha harus melalui tahapan yang jelas dan berkelanjutan. Widodo menjelaskan bahwa pengembangan BUMKal dilakukan melalui lima tahapan utama. Tahapan tersebut meliputi input, process, output, outcome, dan impact. Pendekatan ini memastikan usaha desa berjalan secara terarah. Selain itu, ia menekankan pentingnya jejaring usaha dalam pengembangan BUMKal. Jejaring ini mencakup kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Pengembangan jejaring dilakukan melalui beberapa langkah. Proses ini dimulai dari pemetaan potensi desa hingga analisis rantai nilai. Setelah itu, dilakukan penyusunan model kerja sama yang jelas dan berkelanjutan. Dalam materinya, Widodo juga menjelaskan pentingnya pemetaan potensi desa. Pemetaan ini dilakukan untuk memahami sumber daya dan peluang usaha yang tersedia. Tahapan ini mencakup observasi lapangan, penyusunan ide bisnis, hingga analisis kelayakan usaha. Dengan pendekatan ini, BUMKal dapat menentukan model bisnis yang tepat. Selain itu, analisis rantai nilai membantu menentukan posisi strategis BUMKal. Dengan strategi ini, BUMKal Sendangtirto dapat menciptakan nilai tambah bagi produk lokal. Widodo menegaskan bahwa keberhasilan BUMKal tidak hanya bergantung pada sistem. Faktor kepemimpinan dan kewirausahaan juga sangat menentukan. Pengurus BUMKal harus memiliki kemampuan adaptif dan inovatif. Mereka juga harus berani mengambil peluang yang ada. Dengan pendekatan ini, Pembinaan BUMKal 2026 diharapkan mampu mendorong ekonomi desa secara berkelanjutan.Konsultan Syncore Perkuat Komitmen dalam Pengembangan BUMKal Kegiatan pendampingan ini menegaskan peran Syncore Indonesia sebagai konsultan yang aktif mendukung penguatan kapasitas BUMKal melalui pendekatan strategis dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, Syncore Indonesia berkolaborasi dengan BUMDes.id by Meravi.id untuk membantu BUMKal Sendangtirto memahami strategi pengembangan usaha, tata kelola kelembagaan, dan pentingnya jejaring usaha. Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen Syncore Indonesia dalam menghadirkan pendampingan berbasis keahlian untuk mendorong ekonomi kalurahan yang lebih mandiri. Melalui pendampingan tersebut, Syncore Indonesia mendorong BUMKal Sendangtirto agar mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi kalurahan yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap peluang lokal. Penguatan kapasitas yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengelolaan unit usaha, tetapi juga pada pembangunan model bisnis yang terarah dan berkelanjutan. Dengan dukungan Syncore Indonesia, BUMKal diharapkan dapat menjadi penggerak kemandirian ekonomi lokal sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.