Syncore Indonesia berperan sebagai narasumber dalam kegiatan Pendampingan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinas PMK Dukcapil DIY). Kegiatan tersebut digelar di Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Sleman, pada Kamis, 30 April 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya peningkatan kapasitas pengelola BUMKal agar mampu mengembangkan potensi desa secara lebih profesional, terarah, dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, konsultan Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id untuk mendukung penguatan kapasitas BUMKal Sendangtirto. Kolaborasi ini menegaskan pentingnya pendampingan berbasis keahlian, jejaring, dan strategi pengembangan usaha desa.
Acara diawali dengan sambutan Lurah Sendangtirto, Amir Junawan. Ia menyampaikan bahwa desa memiliki potensi besar yang terus dikembangkan. Salah satu fokus utama adalah pengelolaan sampah berbasis TPS 3R. Menurutnya, produksi sampah di wilayah tersebut cukup tinggi dan membutuhkan pengelolaan yang terstruktur.
Ia juga mendorong kolaborasi dengan pengelola mandiri agar sistem berjalan lebih efektif. “Kami berharap potensi seperti pengelolaan sampah dan wisata bisa menjadi kekuatan ekonomi desa,” ujar Amir Junawan. Selain itu, ia menegaskan bahwa BUMKal Sendangtirto harus mampu menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Dengan pengelolaan yang baik, potensi desa dapat dioptimalkan secara maksimal.
Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Setyo Warjiyana, S.I.P., M.P.A., perwakilan DPMK Dukcapil DIY. Dalam sambutan tersebut disampaikan bahwa Pembinaan BUMKal 2026 merupakan bentuk komitmen Pemerintah Daerah DIY dalam mendukung reformasi kalurahan, khususnya penguatan ekonomi masyarakat. BUMKal dinilai memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi sekaligus pengelola potensi lokal, sehingga pengelolaannya perlu dilakukan secara profesional, transparan, dan akuntabel.
Kalurahan Sendangtirto menjadi salah satu dari 14 lokasi pelaksanaan pembinaan BUMDes di DIY pada tahun 2026. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengurus dalam tata kelola kelembagaan, manajemen usaha, dan pengelolaan keuangan. Selain menjadi sarana penyampaian materi, pembinaan ini juga menjadi ruang diskusi dan berbagi pengalaman untuk mendorong inovasi, penguatan kemitraan, serta pengembangan BUMKal agar semakin bermanfaat bagi masyarakat.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, S.H., M.H., menilai BUMKal Sendangtirto memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kebanggaan Sleman dan DIY. Menurutnya, perubahan dari BUMDes menjadi BUMKal bukan sekadar perubahan nama, tetapi harus diikuti dengan kemandirian agar kalurahan mampu menopang ekonominya secara berkelanjutan. “BUMKal harus menjadi mitra dan jembatan bagi warga, bukan malah menjadi pesaing” tegas Rahayu.
Rahayu juga mengingatkan agar pengurus BUMKal tidak hanya terpaku pada urusan administrasi, tetapi berani berinovasi, berpromosi, dan mengambil peluang dari potensi lokal. Beberapa potensi yang disoroti antara lain embung, tubing, wisata, hingga pengelolaan sampah mandiri. Ia turut mendorong penguatan regulasi, akses permodalan, serta jejaring dengan pihak swasta, akademisi, dan dinas terkait untuk mendukung pendampingan BUMKal secara berkelanjutan..
Dalam sesi materi, narasumber dari Syncore Indonesia, Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., menekankan bahwa BUMKal harus dibangun berbasis kebutuhan desa. Ia menyebut pendirian BUMKal tidak boleh hanya karena regulasi atau tren. Menurutnya, BUMKal harus hadir sebagai solusi atas masalah desa.
Fokus utamanya adalah mengatasi pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan ekonomi. “BUMKal harus mampu mengoptimalkan potensi desa dan menjadi solusi nyata bagi masyarakat” jelas Widodo. Ia juga menegaskan bahwa pembinaan BUMKal 2026 menekankan pendekatan sistematis. Pengembangan usaha harus melalui tahapan yang jelas dan berkelanjutan.
Widodo menjelaskan bahwa pengembangan BUMKal dilakukan melalui lima tahapan utama. Tahapan tersebut meliputi input, process, output, outcome, dan impact. Pendekatan ini memastikan usaha desa berjalan secara terarah. Selain itu, ia menekankan pentingnya jejaring usaha dalam pengembangan BUMKal. Jejaring ini mencakup kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Pengembangan jejaring dilakukan melalui beberapa langkah. Proses ini dimulai dari pemetaan potensi desa hingga analisis rantai nilai. Setelah itu, dilakukan penyusunan model kerja sama yang jelas dan berkelanjutan.
Dalam materinya, Widodo juga menjelaskan pentingnya pemetaan potensi desa. Pemetaan ini dilakukan untuk memahami sumber daya dan peluang usaha yang tersedia. Tahapan ini mencakup observasi lapangan, penyusunan ide bisnis, hingga analisis kelayakan usaha. Dengan pendekatan ini, BUMKal dapat menentukan model bisnis yang tepat. Selain itu, analisis rantai nilai membantu menentukan posisi strategis BUMKal. Dengan strategi ini, BUMKal Sendangtirto dapat menciptakan nilai tambah bagi produk lokal.
Widodo menegaskan bahwa keberhasilan BUMKal tidak hanya bergantung pada sistem. Faktor kepemimpinan dan kewirausahaan juga sangat menentukan. Pengurus BUMKal harus memiliki kemampuan adaptif dan inovatif. Mereka juga harus berani mengambil peluang yang ada. Dengan pendekatan ini, Pembinaan BUMKal 2026 diharapkan mampu mendorong ekonomi desa secara berkelanjutan.
Kegiatan pendampingan ini menegaskan peran Syncore Indonesia sebagai konsultan yang aktif mendukung penguatan kapasitas BUMKal melalui pendekatan strategis dan berkelanjutan. Dalam pelaksanaannya, Syncore Indonesia berkolaborasi dengan BUMDes.id by Meravi.id untuk membantu BUMKal Sendangtirto memahami strategi pengembangan usaha, tata kelola kelembagaan, dan pentingnya jejaring usaha. Kolaborasi ini menjadi bukti komitmen Syncore Indonesia dalam menghadirkan pendampingan berbasis keahlian untuk mendorong ekonomi kalurahan yang lebih mandiri.
Melalui pendampingan tersebut, Syncore Indonesia mendorong BUMKal Sendangtirto agar mampu berkembang menjadi lembaga ekonomi kalurahan yang profesional, inovatif, dan adaptif terhadap peluang lokal. Penguatan kapasitas yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengelolaan unit usaha, tetapi juga pada pembangunan model bisnis yang terarah dan berkelanjutan. Dengan dukungan Syncore Indonesia, BUMKal diharapkan dapat menjadi penggerak kemandirian ekonomi lokal sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.