Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan ekonomi desa. Pada Kamis, 30 April 2026, Syncore Indonesia hadir sebagai narasumber dalam Kegiatan Pembinaan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tahun 2026 di Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini menjadi bagian strategis dalam memperkuat tata kelola ekonomi desa yang mandiri dan berdampak luas, khususnya melalui jejaring usaha yang tepat sasaran.
Kalurahan Sinduadi sendiri memiliki sejumlah potensi yang tengah berkembang. Lurah Sinduadi memaparkan berbagai capaian pengelolaan potensi kalurahan, di antaranya inisiatif pertanian modern berupa fasilitas green house di Balai RT 09 Kragilan yang dikelola BUMKal Sindu Mandiri. Fasilitas ini berfokus pada budidaya melon premium jenis Kaori dan telah sukses menggelar panen raya pada Maret 2026. Selain itu, kalurahan turut memfasilitasi pelaku UMKM kuliner melalui skema food court. Merespon besarnya potensi tersebut, strategi jejaring usaha menjadi bekal krusial bagi BUMKal Sindu Mandiri untuk melangkah lebih jauh dalam menghubungkan produk lokal dengan ekosistem pasar yang lebih luas.
Langkah BUMKal ini juga mendapat dukungan penuh dari sisi kebijakan. Anggota DPRD DIY, Sri Muslimatun, menegaskan bahwa BUMKal harus menjadi jembatan kemajuan ekonomi masyarakat, bukan kompetitor yang mematikan usaha warga. Sebagai bentuk dukungannya pihak legislatif telah menyiapkan anggaran khusus untuk penguatan kapasitas digital para pengurus BUMKal, mulai dari pengelolaan situs web hingga strategi promosi. Komitmen kebijakan ini menjadi angin segar bagi pengurus BUMKal, sekaligus menegaskan bahwa pemerintah merupakan bagian penting dari jejaring yang perlu dibangun desa untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kalurahan.
Dalam sesi pemaparan, narasumber dari Syncore Indonesia, Havri Ahsanul Fuad, S.Ak., M.Ak., menyampaikan strategi pengembangan jejaring usaha kalurahan secara komprehensif. Havri menegaskan bahwa BUMKal harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pengurangan pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan. Ia menjelaskan bahwa bentuk nyata dari pembangunan jejaring usaha tersebut adalah dengan menciptakan kemitraan yang saling menguntungkan antara BUMKal dan warga.
Oleh karena itu, Havri menjelaskan bahwa kunci keberhasilan BUMKal terletak pada kemampuannya menjadi penyerap produk (offtaker) sekaligus menemukan titik nilai tambah melalui Value Chain Analysis. Ia mencontohkan BUMDes Kemudo Makmur yang melalui pendampingan tata kelola Syncore berhasil membangun jejaring dan kepercayaan masyarakat, dimana BUMDes Kemudo Makmur berhasil mengembangkan toko desa Kamajaya Mart sebagai offtaker produk UMKM lokal hingga mencatatkan omzet sebesar Rp6 miliar. Havri menyampaikan bahwa model ini relevan untuk dapat diterapkan di Sinduadi, dimana melon Kaori dapat menjadi produk unggulan yang siap diserap dan dikembangkan nilai tambahnya.
Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia membuktikan bahwa penguatan ekonomi desa membutuhkan pendampingan yang terstruktur, mulai dari strategi bisnis, tata kelola keuangan, hingga digitalisasi. Bersama BUMKal Sindu Mandiri, Syncore terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.