Syncore Indonesia kembali hadir dalam penguatan kapasitas Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di wilayah DIY. Pada Jumat, 8 Mei 2026, Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil DIY menggelar kegiatan Pembinaan BUMKal di Kantor Kalurahan Girikerto sebagai bagian dari strategi Reformasi Ekonomi Kalurahan. Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam memperkuat peran BUMKal sebagai penggerak utama ekonomi desa/kalurahan, sekaligus menjadi ruang bagi Syncore Indonesia untuk berbagi strategi pengembangan jejaring usaha berbasis potensi kalurahan. Agenda pembinaan ini dihadiri peserta yang terdiri dari unsur Pengurus BUMKal, Pengawas BUMKal, Lurah, Pamong Kalurahan, Bamuskal, Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan, serta Tenaga Pendamping Profesional.
BUMKal Girikerto yang bernama BUMKal Gerbang Merapi tercatat telah berbadan hukum dan berstatus maju berdasarkan data dari Kementerian Desa. Capaian ini didukung oleh diversifikasi sembilan unit usaha, meliputi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) Girikerto, Stasiun Pengisian Tangki Air (SPTA), Peternakan Unggas, Wisata Petik Salak Kusuma Mulya, Pengolahan Susu, Bumi Perkemahan Lembah Merapi, Catering Srikandi Sembodo, serta Desa Wisata dan Edukasi.
Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber lintas pemangku kepentingan: Bapak Inoki Azmi Purnomo, S.Ag. dari Komisi A DPRD DIY Fraksi PAN, Maulana Rizka Mahendra, S.E. sebagai Tenaga Ahli Bumdes.id - Syncore Indonesia, serta Malik Khidir dari PT Stechoq. Kehadiran lintas sektor ini mencerminkan keseriusan berbagai pihak dalam mendorong penguatan kelembagaan BUMKal di wilayah DIY.
Maulana, narasumber Bumdes.id - Syncore Indonesia, memaparkan strategi pengembangan jejaring usaha BUMKal berbasis potensi kalurahan. Ia menegaskan bahwa BUMKal harus mampu mengubah masalah menjadi peluang, dan peluang menjadi bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar bertahan dengan pendekatan konvensional yang minim inovasi.
Inti dari strategi yang dipaparkan adalah pendekatan Pemetaan Bentang, sebuah metode yang mengukur dan menganalisis potensi serta permasalahan desa dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari hasil pemetaan ini, BUMKal dapat merumuskan ide bisnis yang relevan, menyusun Business Model Canvas (BMC) yang terukur, hingga melakukan analisis kelayakan usaha secara finansial maupun non-finansial. Pendekatan sistematis inilah yang selama ini menjadi fondasi pendampingan Syncore Indonesia dalam mengembangkan BUMKal di berbagai daerah.
Maulana juga menekankan pentingnya jejaring usaha yang terstruktur. BUMKal perlu memetakan mitra dari berbagai pihak, mulai dari akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah, lembaga keuangan, hingga media. Hasil pemetaan ini diharapkan dapat membangun kerja sama dari kebutuhan usaha nyata dengan dilandasi kepercayaan, serta dapat diformalkan melalui MoU atau Perjanjian Kerja Sama.
Melalui kegiatan ini, Syncore Indonesia membuktikan bahwa penguatan ekonomi desa membutuhkan pendampingan yang metodologis dan menyeluruh mulai dari pemetaan potensi, pengembangan model bisnis, hingga pembangunan jejaring usaha yang berkelanjutan. Bersama BUMKal Gerbang Merapi dan seluruh BUMKal di DIY, Syncore terus berkomitmen menjadi mitra strategis dalam mewujudkan desa yang mandiri dan berdaya saing.