Syncore Indonesia berkolaborasi dengan Bumdes.id by Meravi.id dalam kegiatan pembinaan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) Tuwuh Temuwuh. Kegiatan tersebut digelar oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil DIY (DPMKKPS DIY) di Taman Budaya Temuwuh, salah satu unit usaha milik BUM Desa Tuwuh Temuwuh pada Senin (25/5/2026). Kegiatan ini menghadirkan Maulana Rizka Mahendra selaku Tenaga Ahli Syncore Indonesia untuk memaparkan strategi jejaring usaha dalam penguatan kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh.
Kegiatan ini diikuti sebanyak 15 peserta dari berbagai unsur kalurahan. Peserta terdiri dari Pengurus dan Pengawas BUMKal, Lurah, Pamong Kalurahan, Bamuskal, serta Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan. Pembinaan ini bertujuan memperkuat kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh dalam mengembangkan usaha berbasis potensi kalurahan. Melalui kegiatan ini, BUMKal Tuwuh Temuwuh diharapkan mampu memperkuat perannya sebagai penggerak ekonomi lokal.
Dalam pemaparannya, Maulana menegaskan bahwa BUMKal perlu kembali pada tujuan dasarnya: hadir untuk menyelesaikan masalah dan memenuhi kebutuhan masyarakat yang belum terpenuhi. Ia menekankan bahwa usaha yang berkelanjutan harus dimulai dari pemahaman mendalam tentang potensi dan permasalahan nyata di kalurahan. Tanpa pijakan itu, usaha yang dibangun rentan gagal meski niatnya baik.
Maulana menjelaskan pentingnya melakukan Pemetaan Bentang sebelum menentukan unit usaha yang akan dijalankan. Metode ini menganalisis potensi dan permasalahan kalurahan dari lima dimensi: alam, sosial, ekonomi, budaya, dan teknologi. Dari hasil pemetaan inilah ide bisnis yang relevan dapat dirumuskan, dikembangkan menjadi Business Model Canvas (BMC), lalu diuji kelayakannya sebelum dieksekusi.
Maulana juga memaparkan konsep jejaring usaha sebagai kerja sama terstruktur antar pihak yang saling mendukung. Jejaring ini mencakup pihak internal desa, antar desa, hingga pihak eksternal seperti pemerintah, perbankan, dan sektor swasta. "Jejaring usaha harus dibangun dengan prinsip saling menguntungkan, berbasis kebutuhan, dan berkelanjutan," ujarnya.
Lebih lanjut, Maulana menyoroti pentingnya value chain analysis atau analisis rantai nilai untuk menemukan titik nilai tambah produk BUMKal. Ia juga menekankan bahwa pemilihan ide usaha harus mempertimbangkan kesiapan SDM, sarana prasarana, serta kejelasan pasar. Dengan pendekatan ini, BUMKal Tuwuh Temuwuh diharapkan tidak lagi sekadar mencoba-coba, tetapi melangkah dengan strategi yang terukur.
Melalui kegiatan pembinaan ini, kolaborasi antara DPMKKPS DIY dengan Bumdes.id by Meravi.id yang berkolaborasi dengan Syncore Indonesia diharapkan mampu mendukung peningkatan kapasitas BUMKal Tuwuh Temuwuh secara berkelanjutan. Pendekatan yang diberikan menjadi upaya nyata untuk mendorong BUMKal agar lebih profesional dan mandiri. Dengan pengelolaan yang tepat, BUMKal Tuwuh Temuwuh berpotensi memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Kalurahan Temuwuh.