Syncore Indonesia Berikan Strategi Pemetaan Jejaring Usaha Berbasis Potensi Lokal bagi BUMKal Makmur Jaya

Diterbitkan pada 23 Juni 2026

Syncore Indonesia bekerja sama dengan Bumdes.id by Meravi hadir sebagai narasumber dalam program pendampingan BUMKal Makmur Jaya yang digelar di Balai Kalurahan Salam, Patuk, Gunung Kidul. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta (DPMKKPS DIY) pada Rabu, 17 Juni 2026. Sebanyak 19 peserta mengikuti pelatihan tersebut guna meningkatkan kapasitas pengelola badan usaha milik kalurahan.

Pendampingan ini menghadirkan tiga narasumber dengan peran berbeda. Bapak Arif Setiadi, S.IP., anggota DPRD DIY dari Fraksi PAN, memberikan arahan kebijakan bagi pengembangan BUMKal, Bapak Slamet, S.Pd., dari Tenaga Ahli Pemberdayaan Masyarakat (TAPM) DIY, memberikan arahan terkait tata kelola & akuntabilitas keuangan BUMKal, dan Maulana Rizka Mahendra, S.E., sebagai Tenaga Ahli Syncore Indonesia membahas terkait strategi pengembangan jejaring usaha berbasis potensi kalurahan.

Sebelum sesi paparan dari Narasumber, Direktur BUMKal Makmur Jaya, Aning, terlebih dahulu memaparkan profil dan capaian unit usaha. Berdiri sejak akhir tahun 2016, BUMKal Makmur Jaya kini telah berhasil mengelola beragam unit bisnis. Unit usaha mereka meliputi unit simpan pinjam, Sistem Penyediaan Air Minum Desa (SPAMDes), agen laku pandai, internet murah, perawatan lapangan voli, peternakan ayam petelur untuk ketahanan pangan, hingga Warung Lanjut Usaha Yogyakarta (Waluyo). 

Strategi Pemetaan Jejaring Usaha untuk Pengembangan Bisnis Desa

Maulana, dalam paparannya menjelaskan esensi utama dari pendirian BUMKal, yaitu untuk menyelesaikan masalah nyata di tengah masyarakat serta memenuhi kebutuhan yang belum tercapai. Menurutnya, pembangunan desa yang sesungguhnya harus dimulai dari membangun kesadaran warga untuk mengubah nasibnya sendiri. BUM Desa harus memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan umum dalam rangka menekan angka pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan di desa.

Maulana menyampaikan bahwa BUMKal Makmur Jaya sudah berhasil mengimplementasikan tujuan tersebut. Hal ini ditunjukkan melalui kehadiran salah satu unit usaha, yakni simpan pinjam sebagai jawaban konkrit untuk membantu masyarakat desa yang kesulitan mengakses pinjaman modal dari bank. Lewat unit usaha ini, warga Kalurahan Salam dapat dengan mudah mengakses modal usaha mulai dari Rp500 ribu dengan bunga ringan.

Lebih lanjut, Maulana memaparkan konsep dasar Jejaring Usaha, yaitu hubungan kerja sama terstruktur dan saling menguntungkan antara BUMKal dengan berbagai mitra strategis. Strategi ini dirancang untuk memperluas akses pasar, modal, teknologi, hingga efisiensi distribusi bisnis desa. Jejaring usaha ini dipetakan ke dalam beberapa klaster utama, yaitu sisi hulu bersama petani atau pengrajin lokal, sisi hilir melalui retail dan distributor, serta sisi pendukung seperti lembaga keuangan dan pemerintah.

Proses perancangan jejaring usaha ini didasarkan pada 6 Tahapan Strategi Pengembangan Jejaring, yaitu:

  1. Pemetaan Potensi: Mengidentifikasi aset dan keunggulan prioritas kalurahan.
  2. Analisis Rantai Nilai: Menemukan titik nilai tambah, memetakan alur produksi, serta mengidentifikasi bottleneck usaha.
  3. Identifikasi Aktor Jejaring: Melakukan stakeholder mapping untuk menentukan mitra strategis, baik internal desa, antar-desa, maupun pihak eksternal.
  4. Penentuan Model Jejaring: Memilih bentuk kolaborasi yang tepat (seperti kemitraan produksi, kemitraan distribusi, klaster usaha, atau holding BUMKal).
  5. Desain Skema Kerja Sama: Menyusun sistem kolaborasi formal, pembagian peran, skema bagi hasil, hingga penyusunan MoU/PKS.
  6. Implementasi & Penguatan: Melakukan uji coba (pilot project), monitoring, serta evaluasi berkala untuk ekspansi usaha.

Langkah awal dari seluruh tahapan ini dimulai dengan membentuk Tim Pemetaan Potensi Desa untuk pengisian kertas kerja "Pemetaan Bentang Alam, Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Teknologi". Hasil observasi lapangan dan Focus Group Discussion (FGD) bersama tokoh masyarakat kemudian dituangkan menjadi ide-ide bisnis. Pemilihan usaha akhir disaring berdasarkan aspek legalitas, kapabilitas, pasar, dan permodalan, sebelum akhirnya dianalisis menggunakan Business Model Canvas (BMC). 

Syncore Indonesia yang bekerja sama dengan Bumdes.id by Meravi terus berkomitmen penuh dalam mengawal pertumbuhan, penguatan, dan pengembangan BUM Desa di seluruh Indonesia. Komitmen ini dihadirkan demi mewujudkan tata kelola BUMKal yang tangguh dan akuntabel, guna mendorong esensi sejati dari Kebangkitan Ekonomi Indonesia dari Desa.