Pembinaan BUMKal Dadi Raharja: Syncore Indonesia Dorong Pengembangan Jejaring Usaha Desa

Diterbitkan pada 13 Mei 2026

Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Kependudukan, dan Pencatatan Sipil Daerah Istimewa Yogyakarta kembali menggelar kegiatan pembinaan Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) pada 07 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan Widodo Prasetyo Utomo, S.Ak., Senior Konsultan dari Syncore Indonesia yang berkolaborasi dengan bumdes.id by meravi.id, sebagai salah satu narasumber. 

Pembinaan ini ditujukan bagi para pengelola Badan Usaha Milik Kalurahan (BUMKal) di Kalurahan Margodadi. Selain pengurus BUMKal, peserta juga berasal dari unsur pemerintah kalurahan, BPKal, kelompok tani, dan pelaku UMKM.

Mengubah Masalah Menjadi Peluang Bisnis

Bapak Pras membuka sesi dengan satu pertanyaan mendasar: bagaimana BUMKal mengubah masalah menjadi peluang yang nyata? Menurutnya, pengembangan jejaring usaha BUMKal harus bertumpu pada potensi lokal yang sudah ada di kalurahan.

"Profiling, pemetaan bentang, pelatihan, dan digitalisasi adalah kunci," tegasnya. Tanpa pendekatan itu, BUMKal cenderung bertarung sendiri dengan minim kreativitas dan inovasi.

Jejaring usaha, dalam definisi yang disampaikan, adalah hubungan kerjasama terstruktur dan saling menguntungkan antara BUMKal dengan berbagai mitra. Manfaatnya mencakup akses pasar, akses modal, akses teknologi, hingga efisiensi distribusi.

Pemetaan Bentang dan Tahapan Pengembangan Usaha

Materi inti yang disampaikan Widodo adalah konsep pemetaan bentang, metode untuk mengukur, menghitung, dan mengamati seluruh potensi dalam suatu wilayah. Pemetaan ini terbagi dalam lima bentang: Bentang Alam, Bentang Sosial, Bentang Ekonomi, Bentang Budaya, dan Bentang Teknologi.

Bentang Alam memetakan potensi dan temuan dari sisi alam, seperti keberadaan sungai, danau, air terjun, pantai, pegunungan, hingga lahan pertanian dan perkebunan. Sementara itu, Benteng Sosial memetakan potensi dan temuannya dari kondisi sosial, yang mencakup identifikasi mata pencaharian penduduk, wilayah industri, pemukiman, hingga keberadaan fasilitas umum. Dari sisi Bentang Ekonomi, pemetaan dilakukan terhadap aset dan pelaku ekonomi desa seperti pelaku UMKM, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), serta sentra industri dan kerajinan. Kekayaan desa juga digali melalui Bentang Budaya yang meliputi kesenian daerah, sejarah, baju adat, kuliner khas, hingga upacara adat. Terakhir, Bentang Teknologi meninjau infrastruktur pendukung efisiensi desa, seperti ketersediaan akses internet, panel surya, hingga teknologi tepat guna.

Proses pengembangan usaha ini dilakukan secara bertahap dan sistematis. Proses pemetaan bentang dimulai dari pembentukan Tim Pemetaan Potensi yang melibatkan perwakilan pemerintah kalurahan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, akademisi, dan pelaku usaha. Tim kemudian menyiapkan kertas kerja analisis sebelum turun ke lapangan untuk observasi langsung.

Setelah observasi selesai, ide-ide bisnis dituangkan berdasarkan potensi yang ditemukan, lalu dipilih secara ketat. Tahap akhirnya adalah penyusunan Business Model Canvas (BMC). Dokumen perencanaan yang dihasilkan menjadi landasan agar pengembangan jejaring usaha desa lebih terarah dan berdaya saing. 

Bapak Pras menjelaskan bahwa pengalamannya mendampingi BUM Desa Pagerungan Jaya di Jawa Timur, menjadi bukti bahwa pendekatan berbasis potensi lokal terbukti efektif. Karena itu, strategi pengembangan jejaring usaha desa bukan sekadar teori, melainkan telah teruji di lapangan.

Melalui pembinaan BUMKal ini, diharapkan para pengelola semakin percaya diri merancang model bisnis yang sesuai dengan karakter wilayah masing-masing. Syncore Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus hadir mendampingi BUMKal di berbagai daerah menuju kemandirian ekonomi desa.